Friday, 1 March 2013

Misteri Kematian

"Tiap-tiap yang bernyawa, pasti akan mati". (Ali Imran:185).

Kematian,,”ya semua mahluk yang bernyawa pasti akan mengalami hal itu,,” terkadang kematian atau ajal seseorang itu benar benar sebuah misteri dimana semua mahluk tidak mengetahui kapan,dimana dan jam berapa nyawanya akan dicabut dan dikembalikan menghadap Allah SWT. Bahkan malaikat mautpun yang notabenya ditugaskan untuk mecabut nyawa seseorang tidak mengetahui kapan dan dimana dia akan mencabut nyawa seorang hamba yang diperintahkan Allah padanya.

Dihari yang menjelang sore ini ijinkan saya untuk menguraikan sedikit kisah yang kudengar dari seorang ulama pada hari jum’at kemarin, mungkin dari teman teman sudah ada yang mendengar cerita ini. Tapi sebelum memulai kisah ini alangkah baiknya saya meminta maaf apa bila dalam penyampain atau ceritanya yang kutulis ini berbeda dari teman teman dengar.dan semoga Allah mengampuni ku jika ada salah kata atau kehilafan disini.

Pada suatu hari Malaikat izrail menampakan diri dan bertamu ke kerajaan Nabi sulaiman as. Dalam kunjugan itu Malaikat Izrail menatap tajam seorang pemuda yang berada dekat dengan Nabi Sulaiman. Seketika itu pemuda itu merasa ketakutan dan gemetarlah seluruh tubuh sang pemuda melihat tatapan Malaikat izrail dan terlintas gambaran gambaran akan dekatnya kematian datang menghampiri sang pemuda.

Tak lama kemudian malaikat izrail pun pergi meninggalkan kerajaan Nabi Sulaiman as. Kemudian sang pemuda menghampiri Nabi Sulaiman dan menceritakan kejadian itu, bahwa tatapan tamunya tadi membuatnya takut dan membayangkan bahwa ajalnya sudah dekat. Maka sebelum kebenaran apa yang dia rasa maka pemuda itu berkata: "Wahai Nabi Allah, aku memohon sudilah kiranya tuan menyuruh angin membawaku ke negeri Cina."

Akhirnya Nabi sulaiman pun mengabulkan permintaan sang pemuda dan menyuruh angin agar menerbangkan pemuda tersebut kenegri cina. Setelah beberapa waktu datanglah lagi Malaikat izrail menghampiri Nabi Sulaiman. Dan Nabi Sulaiman pun mencoba menanyakan tentang tatapan Malaikat Izrail itu kepada sang pemuda yang dia kirim kenegri cina.

Malaikat Izrailpun berkata “” Sesungguhnya aku telah diperintahkan Allah SWT untuk mencabut nyawa pemuda tersebut dinegri cina, pada waktu yang telah ditetapkan-Nya”. Padahal yang kutau pemuda tersebut berada didekatmu,,”makanya aku menatap penuh heran dan takjub kepada pemuda tersebut.

Kemudia Nabi Sulaimanpun menceritakan permintaan sang pemuda tersebut sebelum ajalnya menjemput kepada malaikat Izrail.

Malaikat Israilpun berkata :"Ya, aku telah mencabut nyawanya di negeri Cina," tegas malaikat maut.

Dari cerita singkat diatas bias dilihat bahwasanya Maut itu memang sebuah misteri, bahkan malaikat mautpun tak tau kapan,dimana,dan jam berapa dia mencabut nyawa seorang hamba. Atas izin Allah SWT lah dia diberi tugas tuk menjemput hamba-Nya. Dan semoga kisah diatas menjadikan kita paham dan sedikit tau bahwasanya kematian itu tak bisa kita hindari dan kita rubah tanggal,taun dan harinya. Dan menjadikan kita sadar bahwa dimanapun kita berada maut pasti akan datang,,entah dalam keadaan sehat,bahagia,sakit,tertawa atau pun duka, tinggal bagaimana cara kita mempersiapak diri kita untuk menghadapinya disaat hari itu datang kepada kita. Wassalllam…”

Read More »
18:33 | 0 comments

Syahadat Saridin


Assallamu'allaikum.Wr.Wb.
Pertama-tama mari kita panjatkan puja dan puji syukur kita kepada Allah SWT,yang telah memberikan nikmat sehat sehingga kita masih diberi kesempatan tuk berbagi kisah dan cerita diraja singa,tak lupa sholawat dan salam kita tujukan untuk pemimpin dan junjungan kita Nabi Muhammad Rosullullah,yang selalu tak henti hentinya memikirkan kita sebagi umatnya yang dicintainya sampai ajal menjemput beliau, agar kita menjadi umatnya yang selamat didunia dan akhirat. dan tak lupa ku ucapkan met pagi menjelang siang buat sodara sodaraku diraja singa,masih seperti biasa disini aku tak bosan bosanya berbagi cerita ataupun kisah buat kalian,,semoga kalianpun tak merasa bosan dan kesal denganku yang sering ditag gambar gambar dari raja singa,yang mungkin cuma bisa memenuhi dinding aja,semoga kalian selalu diberi petunjuk oleh Allah disetaip saat dan setiap waktu,"amiin'

cerita kali ini masih dari cerita yang pernah disampaikan oleh sodara kita Emha ainun nadjib,dan saya tuangkan kembali dalam bentuk catatan diRaja Singa,semoga ada manfaat dan hikmah yang bisa diambil dari cerita ini.

Pada waktu itu Sunan Kudus mengumpulakn santri santrinya untuk menjalani sebuah tes tentang arti sebuah sahadat,dan dari sekian santrinya tiba giliran Saridin,dan Sunan kudus mempersilahkan Saridin maju dan mempersiapkan diri.

Waktu yang diminta oleh Saridin untuk mempersiapkan diri telah dipenuhi. Dan kini ia harus membuktikan diri. Semua santri, tentu saja juga Sunan Kudus, berkumpul di halaman masjid.

Dalam hati para santri sebenarnya Saridin setengah diremehkan. Tapi setengah yang lain memendam kekhawatiran dan rasa penasaran jangan-jangan Saridin ternyata memang hebat.

Sebenarnya soalnya di sekitar suara, kefasihan dan kemampuan berlagu. Kaum santri berlomba-lomba melaksanakan anjuran Allah, Zayyinul Qur'an ana biashwatikum - hiasilah Qur'an dengan suaramu.

Membaca syahadat pun mesti seindah mungkin.

Di pesantren Sunan Kudus, hal ini termasuk diprioritaskan. Soalnya, ini manusia Jawa Tengah: lidah mereka Jawa medhok dan susah dibongkar. Kalau orang Jawa Timur lebih luwes. Terutama orang Madura atau Bugis, kalau menyesuaikan diri dengan lafal Qur'an, lidah mereka lincah banget.

Lha, siapa tahu Saridin ini malah melagukan syahadat dengan laras slendro atau pelog Jawa.

Tapi semuanya kemudian ternyata berlangsung di luar dugaan semua yang hadir. Tentu saja kecuali Sunan Kudus, yang menyaksikan semua kejadian dengan senyum-senyum ditahan.

Ketika tiba saatnya Saridin harus menjalani tes baca syahadat, ia berdiri tegap. Berkonsentrasi. Tangannya bersedekap di depan dada. Matanya menatap ke depan. Ia menarik napas sangat panjang beberapa kali. Bibirnya umik-umik [komat-kamit] entah membaca aji-aji apa, atau itu mungkin latihan terakhir baca syahadat.

Kemudian semua santri terhenyak. Saridin melepas kedua tangannya. Mendadak ia berlari kencang. Menuju salah satu pohon kelapa, dan ia pilih yang paling tinggi. Ia meloncat. Memanjat ke atas dengan cepat, dengan kedua tangan dan kedua kakinya, tanpa perut atau dadanya menyentuh batang kelapa.

Para santri masih terkesima sampai ketika akhirnya Saridin tiba di bawah blarak-blarak [daun kelapa kering] di puncak batang kelapa. Ia menyibak lebih naik lagi. Melewati gerumbulan bebuahan. Ia terus naik dan menginjakkan kaki di tempat teratas. Kemudian tak disangka-sangka Saridin berteriak dan melompat tinggi melampaui pucuk kelapa, kemudian badannya terjatuh sangat cepat ke bumi.

Semua yang hadir berteriak. Banyak di antara mereka yang memalingkan muka, atau setidaknya menutupi wajah mereka dengan kedua telapak tangan.

Badan Saridin menimpa bumi. Ia terkapar. Tapi anehnya tidak ada bunyi gemuruduk sebagaimana seharusnya benda padat sebesar itu menimpa tanah. Sebagian santri spontan berlari menghampiri badan Saridin yang tergeletak. Mencoba menolongnya. Tapi ternyata itu tidak perlu.

Saridin membuka matanya. Wajahnya tetap kosong seperti tidak ada apa-apa. Dan akhirnya ia bangkit berdiri. Berjalan pelan-pelan ke arah Sunan Kudus. Membungkuk di hadapan beliau. Takzim dan mengucapkan, sami'na wa atha'na -aku telah mendengarkan, dan aku telah mematuhi.

Gemparlah seluruh pesantren. Bahkan para penduduk di sekitar datang berduyun-duyun. Berkumpul dalam ketidakmengertian dan kekaguman. Mereka saling bertanya dan bergumam satu sama lain, namun tidak menghasilkan pengertian apa pun.

Akhirnya Sunan Kudus masuk masjid dan mengumpulkan seluruh santri, termasuk para penduduk yang datang, untuk berkumpul. Saridin didudukkan di sisi Sunan. Saridin tidak menunjukkan gelagat apa-apa. Ia datar-datar saja.

"Apakah sukar bagi kalian memahami hal ini?" Sunan Kudus membuka pembicaraan sambil tetap tersenyum. "Saridin telah bersyahadat. Ia bukan membaca syahadat, melainkan bersyahadat. Kalau membaca syahadat, bisa dilakukan oleh bayi umur satu setengah tahun. Tapi bersyahadat hanya bisa dilakukan oleh manusia dewasa yang matang dan siap menjadi pejuang dari nilai-nilai yang diikrarkannya."

Para santri mulai sedikit ngeh, tapi belum sadar benar.

"Membaca syahadat adalah mengatur dan mengendalikan lidah untuk mengeluarkan suara dan sejumlah kata-kata. Bersyahadat adalah keberanian membuktikan bahwa ia benar-benar meyakini apa yang disyahadatkannya. Dan Saridin memilih satu jenis keberanian untuk mati demi menunjukkan keyakinannya, yaitu menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa."

Di hadapan para santri, Sunan Kudus kemudian mewawancarai Saridin: "Katamu tidak takut badanmu hancur, sakit parah atau mati karena perbuatanmu itu?"

"Takut sekali, Sunan."

"Kenapa kamu melakukannya?"

"Karena syahadat adalah mempersembahkan seluruh diri dan hidupku."

"Kamu tidak menggunakan otakmu bahwa dengan menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa itu kamu bisa cacat atau meninggal?"

"Aku tahu persis itu, Sunan."

"Kenapa kau langgar akal sehatmu?"

"Karena aku patuh kepada akal sehat yang lebih tinggi. Yakni bahwa aku mati atau tetap hidup itu semata-mata karena Allah menghendaki demikian, bukan karena aku jatuh dari pohon kelapa atau karena aku sedang tidur. Kalau Allah menghendaki aku mati, sekarang ini pun tanpa sebab apa-apa yang nalar, aku bisa mendadak mati."

"Bagaimana kalau sekarang aku beri kau minum jamu air gamping yang panas dan membakar tenggorakan dan perutmu?"

"Aku akan meminumnya demi kepatuhanku kepada guru yang aku percaya. Tapi kalau kemudian aku mati, itu bukan karena air gamping, melainkan karena Allah memang menghendaki aku mati."

Sunan Kudus melanjutkan: "Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa tindakan yang kau pilih itu memang tidak membahayakan dirimu, insya Allah, tetapi bisa membahayakan orang lain?"

"Maksud Sunan?"

"Bagaimana kalau karena kagum kepadamu lantas kelak banyak santri menirumu dengan melakukan tarekat terjun bebas semacam yang kau lakukan?"

"Kalau itu terjadi, yang membahayakan bukanlah aku, Sunan, melainkan kebodohan para peniru itu sendiri," jawab Saridin, "Setiap manusia memiliki latar belakang, sejarah, kondisi, situasi, irama dan metabolismenya sendiri-sendiri. Maka Tuhan melarang taqlid, peniruan yang buta. Setiap orang harus mandiri untuk memperhitungkan kalkulasi antara kondisi badannya dengan mentalnya, dengan keyaknannya, dengan tempat ia berpijak, serta dengan berbagai kemungkinan sunatullah atau hukum alam permanen. Kadal jangan meniru kodok, gajah jangan memperkembangkan diri seperti ular, dan ikan tak usah ikut balapan kuda."

"Orang memang tak akan menyebutmu kadal, kuda, atau kodok, melainkan bunglon. Apa katamu?"

"Kalau syarat untuk terhindar dari mati atau kelaparan bagi mereka adalah dengan menyebutku bunglon, aku mengikhlaskannya. Bahkan kalau Allah memang memerintahkanku agar menjadi bunglon, aku rela. Sebab diriku bukanlah bunglon, diriku adalah kepatuhanku kepada-Nya."

Semogga cerita yang dituangkan kembali diRaja singa bisa menambah perbendaharaan ilmu,walau ilmu yang didapat tidak seberapa tapi semoga ada manfaatnya,dan apa bila dalam penyampaian cerita da kesalahan saya pribadi meminta maaf sebesar besarnya. Wassallam,,"

Read More »
18:31 | 0 comments

Fatimah Sipemintal Tenda

Assallamu'allaikum.Wr.Wb

Alhamdulillah kewajiban kita dihari ini telah ditunaikan,semoga Allah masih memberi kita kesempatan untuk esok hari tuk mensyukuri segala nikmat dan rahmat kasih-Nya yang tiada henti hentinya diberikan kepada hamba hamba-Nya.

Seperti biasanya aku hadir diraja singa tuk sekedar berbagi kisah atau cerita kepada teman teman semua,dan semoga kisah yang disajaikan atau disampaikan ada sedikit hikmah atau pelajaran didalamnya. langsung saja malam ini saya membuat catatan kisah seorang wanita bernama Fatima.

Kisah ini sangat dikenal dalam cerita rakyat Yunani, yang kebanyakan tema sezamannya menampilkan para darwis dan legenda-legendanya. Versi yang dikutip di sini berasal dari Syeh Muharumad Jamaluddin dari Adrianople, beliau wafat pada tahun 1750.

Dikisahkan di sebuah kota di ujung barat hiduplah seorang gadis bernama Fatima. Ia putri seorang pemintal kaya raya. Suatu hari ayahnya berkata kepadanya, "Ikutlah denganku, putriku. Kita akan mengadakan perjalanan. Aku punya urusan dagang di kepulauan Laut Tengah. Barangkali dalam situasi menyenangkan kau akan bertemu seorang pemuda tampan yang akan kau pilih menjadi suamimu." Mereka segera bersiap.

Begitulah, dari satu pulau ke pulau lain mereka berkelana. Sang ayah berdagang, sementara Fatima mengangankan seorang pemuda yang akan menjadi suaminya. Tetapi, suatu hari dalam pelayaran menuju Kreta, laut mengamuk, dan badai dahsyat membuat kapal mereka karam. Fatima yang setengah sadar terdampar di pantai dekat Aleksandria. Ayahnya meninggal dan tinggallah Fatima kini sebatang kara.

Hanya samar-samar ia bisa mengingat siapa dirinya, sebab pengalaman karamnya kapal dan terlunta-lunta di laut lepas telah membuatnya letih.

Ketika ia sedang berputar-putar di pantai tanpa tujuan, sebuah keluarga penenun kain melihatnya. Meskipun miskin, mereka menerimanya di pondok mereka dan mengajarinya keterampilan menenun. Demikianlah gadis itu memulai hidup keduanya, dan dalam setahun dua tahun ia sudah merasa gembira kembali. Ia berdamai dengan nasibnya. Tetapi suatu hari, ketika sedang bersantai di pantai, sekelompok pedagang budak menghadang dan membawanya pergi; bersamanya juga ada tawanan lain.

Ratapan dan keluh kesah Fatima tidak menimbulkan simpati dari orang-orang yang menangkapnya. Ia dijual ke Istanbul sebagai seorang budak.

Dunianya limbung untuk kedua kalinya. Fatima beruntung karena ketika itu pasar sedang sepi dan hanya ada sedikit pembeli budak. Salah satunya seorang lelaki yang mencari budak untuk bekerja di pabrik kayunya untuk membuat tiang-tiang kapal. Ketika dilihatnya Fatima diperlakukan tidak senonoh, ia merasa kasihan dan memutuskan membeli gadis malang itu. Pikirnya, dengan begitu setidaknya ia bisa memberi hidup yang sedikit lebih baik bagi Fatima dibandingkan bila gadis itu dibeli oleh orang lain.

Ia membawa Fatima ke rumahnya dengan maksud mempekerjakannya sebagai pelayan bagi istrinya. Tetapi ketika tiba di rumah, ia diberitahu bahwa kapal muatnya telah dirampok bajak laut. Padahal semua uangnya sudah ia habiskan untuk membeli muatan dalam kapal tersebut. Ia tak punya uang lagi untuk mengupah pekerja, jadi ia, Fatima, dan istrinya sendirian bekerja keras membuat tiang-tiang.

Fatima, yang sangat bersyukur telah diselamatkan oleh pembelinya itu, bekerja sangat giat dan baik sehingga tuannya membebaskannya, dan jadilah Fatima orang kepercayaan tuannya. Dan Fatima cukup bahagia dengan kehidupan ketiganya itu.

Suatu hari, tuan itu berkata kepada Fatima: "Fatima, pergilah dengan kapal muat membawa tiang-tiang kapal ke Jawa sebagai suruhanku, dan pastikan kau menjualnya dengan mendapatkan laba."

Fatima pun pergi berlayar. Namun, tatkala kapal itu berada di pesisir Cina, topan dahsyat menenggelamkannya, dan lagi-lagi Fatima menemukan dirinya terdampar di pantai di tanah asing. Sekali lagi, gadis itu menangis sedih, sebab ia merasa tak sekalipun hidupnya berlangsung sesuai dengan apa yang diharapkannya. Kapan pun segala sesuatu tampak mulai membaik, celaka datang dan menghancurkan segala asa.

"Mengapakah," keluhnya," setiap kali aku berusaha meraih kebahagian, selalu saja berakhir dengan dukacita? Mengapa begitu banyak hal buruk menimpaku?" Tetapi tak ada jawab. Kemudian, ia bangkit dan mulai berjalan ke kota.

Di Cina tak seorang pun pernah mendengar tentang Fatima, atau tahu sesuatu mengenai kemalangannya. Tetapi, ada legenda bahwa seorang asing, seorang wanita, suatu hari akan datang ke negeri itu, dan ia akan membuatkan sebuah tenda untuk Kaisar. Dan, oleh sebab orang Cina tak ada yang bisa membuat tenda, semua orang menantikan penggenapan ramalan tersebut dengan penuh sigap.

Untuk memastikan agar kedatangan wanita asing ini diketahui, maka Kaisar Cina turun-temurun mengikuti kebiasaan untuk mengirimkan pesan, setahun sekali, kepada kota dan desa di negeri itu, menanyakan tentang wanita asing yang harus dibawa ke istana.

Ketika Fatima dituntun masuk ke kota oleh nelayan Cina, penantian sekian lama akhirnya berujung. Orang-orang berbincang dengannya lewat seorang penerjemah, dan menyuruhnya ke istana menemui Kaisar.

"Nyonya," kata Sang Kaisar, ketika Fatima, dibawa menghadap, "dapatkah Nyonya membuat sebuah tenda?"

"Saya dapat," jawab Fatima.

Ia minta tali, namun tak ada orang yang punya tali. Mengingat pengalamannya sebagai pemintal, ia membuat tali dari rami. Kemudian, ia meminta kain khusus untuk tenda, tetapi orang Cina tidak memiliki kain seperti yang ia perlukan. Dengan keterampilan menenun yang dipelajarinya di Aleksandria, ia membuat sendiri kain khusus yang dibutuhkan. Lalu, akhirnya ia mencari tiang tenda, tetapi juga tak ada di Cina. Jadi, Fatima mengandalkan kemampuannya membuat tiang yang dipelajarinya di Istanbul, dan dengan terampil ia menyiapkan tiang untuk tenda. Setelah segalanya siap, ia memeras otak mengingat kembali tenda-tenda yang pernah dilihatnya selama berkelana; dan akhirnya, jadilah sebuah tenda.

Ketika tenda satu-satunya di Cina itu dibawa kepada Kaisar, Kaisar sangat girang hatinya. Atas pekerjaan Fatima tersebut, Kaisar memenuhi segala harapan dan keinginan hati Fatima. Ia memilih menetap di Cina, menikah dengan seorang pangeran tampan, dan hidup bahagia bersama anak-anaknya hingga akhir hayatnya.

Lewat semua petualangan ini, Fatima menyadari bahwa apa yang semula tampak sebagai pengalaman menyedihkan, ternyata merupakan bagian penting dari pencapaian kebahagian sejati dalam hidupnya.

Semoga kisah diatas memberi kita sedikit hikmah dan manfaat,bahwa sesungguhnya Allah menguji setiap hamba dengan berbagai cobaan kepada hambanya,bukan tanpa maksud atau Allah tak lagi mendengarkan do'a seorang hamba,tapi Allah akan memberikan harga terbaik untuk hambanya yang benar benar bersabar,ikhlas dan bersyukur atas nikmat yang didapat sekecil apapun,atau musibah sebesar apapun,karena dibalik semua itu ada sesuatu yang tertunda dari Allah untuk kita.InssaAllah..."

Wassallam,,,"

Read More »
18:29 | 0 comments

Nabi Kidir dan Pengawa Tirani


Assallamu'allaikum.Wr.Wb.
Met siang aja buat para sahabatku diraja singa.seperti biasanya aku mencoba sedikit menguraikan kembali kisah atau sejarah islam yang pernah masyhur dizamanya,semoga ada manfaat dan pelajaran untuk kita petik bersama, InssaAllah..."

Langsung saja Cerita ini begitu terkenal dikalangan sufi,Namanya adalah Bakhtiar Baba,ia adalah seorang Sufi bijaksana yang hidupnya sangat sederhana dan tak dikenal orang di Korasan,sampai peristiwa yang ada dalam kisah ini terjadi.

Pada suatu malam seorang penguasa tiran Turkestan sedang mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh seorang darwis,ketika sang raja tiba-tiba bertanya tentang Kidir.

"Kidir,"?” kata darwis itu,"datang kalau diperlukan.Tangkaplah Kidir,ambil jubahnya jika ia muncul, dan segala pengetahuan akan menjadi milik Paduka,"

Raja :"Apakah itu bisa terjadi atas siapapun?"

"Siapa pun bisa," kata darwis itu.

Karena sifat tamak dan keinginannya tuk mendapat jubah Kidir sang raja pun langsung membuat pengumuman dihadapan para mentri dan rakyatnya.

"Siapa yang bisa menghadirkan Kidir Yang Gaib di hadapanku,
akan kujadikan orang kaya."

Maka tak lama kemudian pengumuman itupun sampai pada seseorang lelaki miskin dan tua, laki laki tua itu bernama Bakhtiar Baba,setelah mendengar pengumuman itu, iapun menyusun akal. Dan berkata kepada istrinya: "Aku punya rencana. Kita akan segera kaya,tetapi beberapa lama kemudian aku harus mati. Namun,itu tak apalah,sebab kekayaan kita akan bisa menghidupimu seterusnya."

Kemudian Bakhtiar menghadap raja dan mengatakan bahwa ia akan mencari Kidir dalam waktu empat puluh hari, kalau Raja bersedia memberinya seribu keping uang emas. "Kalau kau bias menemukan Kidir," kata Raja, "kau akan mendapat sepuluh kali seribu keping uang emas ini.Kalau gagal,kau akan mati,dipancung ditempat ini sebagai peringatan kepada siapapun yang akan mencoba mempermainkan rajanya."

Bakhtiar menerima syarat itu. Ia pun pulang dan memberikan uang itu kepada istrinya, sebagai jaminan hari tuanya. Sisa hidupnya yang tinggal empat puluh hari itu dipergunakannya untuk merenung, mempersiapkan diri memasuki kehidupan lain.

Pada hari keempat puluh ia menghadap raja. "Yang Mulia," katanya, kerakusanmu telah menyebabkanmu berpikir bahwa uang akan bisa endatangkan Kidir. Tetapi Kidir,kata orang,tidak akan muncul oleh panggilan yang berdasarkan kerakusan."

Sang Raja sangat marah."Orang celaka,kalau telah mengorbankan nyawamu; siapa pula kau ini berani mencampuri keinginan seorang raja?"

Bakhtiar berkata, "Menurut dongeng, semua orang bisa bertemu Kidir,tetapi pertemuan itu hanya akan ada manfaatnya apabila maksud orang itu benar. Mereka bilang,Kidir akan menemui orang selama ia bisa memanfaatkan saat kunjungan itu.Itulah hal yang kita tidak menguasainya."

"Cukup ocehanmu itu,"kata Sang Raja,"sebab tak akan memperpanjang hidupmu. Hanya tinggal meminta para menteri yang berkumpul di sini agar memberikan nasehatnya tentang cara yang terbaik untuk menghukummu."

Ia menoleh ke Menteri Pertama dan berkata, "Bagaimana cara
orang itu mati?"

Menteri Pertama menjawab, "Panggang dia hidup-hidup, sebagai
peringatan."

Menteri Kedua, yang berbicara sesuai urutannya berkata,
"Potong-potong tubuhnya, pisah-pisahkan anggota badannya."

Menteri Ketiga berkata, "Sediakan kebutuhan hidup orang itu, agar ia tidak lagi mau menipu demi kelangsungan hidup keluarganya."

Sementara pembicaraan itu berlangsung,seorang bijaksana yang sudah sangat tua memasuki ruang pertemuan. Dan berkata “Segera orang mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi dalam dirinya."

"Apa maksudmu?" tanya Raja.

Kidirpun menjelaskan maksud perkataanya:"Maksudku,Menteri Pertama itu aslinya tukang roti,jadi ia berbicara tentang panggang-memanggang.Menteri Kedua dulu tukang daging,jadi ia bicara tentang potong-memotong daging. Menteri Ketiga,yang telah mempelajari ilmu kenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini.

Catat dua hal ini. Pertama,Kidir muncul melayani setiap orang sesuai dengan kemampuan orang itu untuk memanfaatkan kedatangannya.Kedua,”Bakhtiar, orang ini yang kuberi nama Baba karena pengorbanannya-telah didesak oleh keputus-asaan untuk melakukan tindakan tersebut. Keperluannya semakin mendesak sehingga akupun muncul didepanmu."

Ketika orang-orang itu memperhatikannya,orang tua yang bijaksana itupun lenyap begitu saja dan semua orang yang berada disitu termasuk raja terperangah dan merasa tak percaya kalau Kidir muncul dihadapan mereka. Maka Sesuai dengan yang diperintahkan Kidir.Raja memberikan belanja teratur kepada Bakhtiar.Menteri Pertama dan kedua dipecat,dan seribu keping uang emas itu dikembalikan ke kas kerajaan oleh
Bakhtiar dan istrinya.

Cerita ini terdapat dalam kitab karangan Jalaludin Rumi.

Wallahu’allam,,”

Wassallam,,,”

Read More »
18:27 | 0 comments

Allah Tersenyum


Assallamu'allaikum.Wr.Wb.

Pada siang menjelang sore ini aku mengajak semua teman temanku diRaja Singa untuk sedikit berbasa basi, mungkin dan ceritaku ini ada hikmah juga solusi gimana tuk menyingkapinya. aku akan bertanya ma Teman-Temanku diRaja singa,Pernahkah Allah tersenyum, atau melucu? Dalam kitab Al-Qur’an sendiri tak ada penjelasan Bahwa Allah tersenyum kepada para nabinya atau hambanya yang berbuat baik. Tapi kalau kitab atau kisah yang menggambarkan bahwa Allah tersenyum banyak sekali.ini ada sebuah kejadian yang menarik ketika dihari jum’at pertama dan dijum’at minggu kedua kemarin,dan Khatib atau ustadznyapun berbeda,Khatib dijum’at pertama membawakan khotbah Jum’at dengan melucu dengan gaya melawak,sehingga jemaah yang tadinya ngatuk dan bahkan ada yang udah terbawa mimpinya seketika itu terbangun dan mereka mendengarkan khotbah jum’at dengan selesai dan tersenyum ketika mendengarkanya.

Hari jum’at kedua yang jadi Khatib kebetulan mendengarkan ceramah Khatib pertama yang dengan gaya melucunya itu. Dan khatib kedua ini akhirnya membahas dalam khotbahnya dan berkata “ Agama bukan barang lucu” dan tak perlu dibikin lelucon,perlu diingat mimbar Jum’at bukan arena humor,jadi sengaja melucu dalam khotbah jum’at dilaran keras,,”

Dalam hatiku berkata “Kita memang perlu norma. Tapi juga perlu kelonggaran. Maka,aku khawatir kalau menguap di masjid bakal dilarang. Siapa
tahu, di rumah Allah hal itu tak sopan. Buat jemaah yang
suka menguap macam aku, karena jarang setuju dengan isi
khotbah, yang mengakibatkan tertidur pulas sampai khutbah bunyi “Amin-Amin” dan jama’ah jum’at sebagai tanda Jum’ah akan bentar lagi usai.

Suatu saat aku dengar ada seorang ustadz yang dikritik oleh ustadz lainya Soalnya,dalam ceramah agamanya ia melucu. Tapi Ustadz ini punya alasan sahih.Ia, konon, sering mengamati sekitar. Di kampungnya, banyak
anak muda tak tertarik pada ceramah agama.

"Mengapa?" tanya Ustadz.

"Karena isinya cuma sejumlah ancaman neraka."

makanya kita memberi tauziah kepada generasi muda tentang agama dengan gaya sedikit melucu agar mereka tak bosan tentang gambaran siksa neraka yang itu itu saja. Tapi kita memberi warna yang segar agar mereka tetap bias mempelajari agama juga menghilangkan kebosanan kepada setiap jamaah yang hadir.dan inssaAllah para remajapun atau jemaah yang hadir akan hadir dan menyimak dengan baik.

Saya suka sufisme. Di sana Tuhan dilukiskan serba ramah. Dan
bukannya marah melulu macam gambaran kita. A'u dibaca angu,
tidak bisa. Dzubi jadi dubi, tidak boleh. Khotbah lucu,
jangan. Lho??”

Bukankah alam ini pun "khotbah" Tuhan? Langit
selebar itu tanpa tiang, bulan bergayut tanpa cantelan dan
aman, apa bukan "khotbah" maha jenaka? Apa salahnya humor
dalam agama?

Dalam kisah sufi ada disebut cerita seorang gaek penyembah patung. Ia menyembah tanpa pamrih. Tapi di usia ke-70 ia punya kebutuhan penting. Doa pun diajukan. Sayang, patung itu cuma diam. Kakek kecewa. Ia
minta pada Allah. Dan ajaib: dikabulkan.

Bukan urusan dia bila masalah kemudian timbul, sebab
Allah-lah, bukan dia, yang mengakibatkan para malaikat protes dan berkata:”

"Mengapa ya, Allah, Kaukabulkan doa si kakek? Lupakah Kau ia
penyembah patung? Bukankah ia kafir yang nyata?"

Allah senyum. "Betul," jawabnya, "Tapi kalau bukan Aku,
siapa akan mengabulkan doanya? Kalau Aku pun diam, lalu apa
bedanya Aku dengan patung?"

Semoga catatan kecil ini memberi sedikit warna pula buat teman temanku diRaja Singa, adakalanya kita tegas ketika membahas tentang agama dan adakalanya kita menyikampinya dengan mengajak semua tersenyum. Agar apa yang kita sampaikan tak menimbulkan kebosanan tersendiri bagi orang yang sedang mempelajari tentang agama islam. inssaAllah..

Wassallam..”

Read More »
18:24 | 1 comments

Nabi Isa dan Orang - Orang Bimbang

Assallamu'allaikum.Wr.Wb.

Bissmillahhirohmanirrohim,’’ met malam buat sahabatku diraja singa,semoga hari ini kalian masih diberi nikmat kemudahan dalam apapun oleh Allah. Seperti biasa pada sore ini aku sedikit berbasa basi juga sedikit bercerita. Semoga kisah atau cerita ini bisa diambil manfaatnya.inssaAllah,,”amiin.
Isa dalam kisah ini adalah Yesus, putra Maria.
Diceritakan oleh Sang Guru Jalaludin Rumi dan yang
lain-lain, pada suatu hari Isa, putra Mariam, berjalan-jalan
di padang pasir dekat Baitulmukadis bersama-sama sekelompok
orang yang masih suka mementingkan diri sendiri.

Mereka meminta dengan sangat agar Isa memberitahukan kepada
mereka Kata Rahasia yang telah dipergunakannya untuk
menghidupkan orang mati. Isa berkata, "Kalau kukatakan itu
padamu, kau pasti menyalahgunakannya."

Mereka berkata, "Kami sudah siap dan sesuai untuk
pengetahuan semacam itu; tambahan lagi, hal itu akan
menambah keyakinan kami."

"Kalian tak memahami apa yang kalian minta," katanya -tetapi
diberitahukannya juga Kata Rahasia itu.

Segera setelah itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu
tempat yang terlantar dan mereka melihat seonggok tulang
yang sudah memutih. "Mari kita uji keampuhan Kata itu," kata
mereka, Dan diucapkanlah Kata itu.

Begitu Kata diucapkan, tulang-tulang itupun segera
terbungkus daging dan menjelma menjadi seekor binatang liar
yang kelaparan, yang kemudian merobek-robek mereka sampai
menjadi serpih-serpih daging.

Semogga kisah sedikit diatas membuat kita sedikit paham,bahwasanya carilah ilmu yang bermanfaat dan yang pastinya yang mudah dipahami oleh kita. Jika tidak paham dengan apa yang kita dapat maka alangkah baiknya kita diam dan mencari tau apa sebenarnya kandungan ilmu yang kita pelajari hari ini. Sudah pantaskah kita menyampaikan sesuatu itu pada orang lain padahal kita sendiri belum begitu benar memahaminya. Met malam minggu dan wassallam,,”

Read More »
18:22 | 0 comments

Sultan Yang Terbuang


Assallamu’allaikum. Wr.Wb

met siang menjelang sore buat sahabatku diraja singa semuanya,,semoga segala rahmat tercurah buat kalian semua,,”seperti biasanya kali ini aku akan mencoba mengulas sedikit cerita yang cukup terkenal dijamanya. Dan cerita atau kisah ini berasal dari manuskrip berjudul Hu-Nama (Kitab Hu), dalam kumpulan Nawab Sardhana, tertulis tahun 1596.

Kisah ini, seperti juga kisah Sufi lainnya, menekankan ucapan Nabi Muhammad: "Berbicaralah kepada setiap orang sesuai dengan tingkat pemahamannya."

Suatu hari seorang Sultan Mesir mengumpulkan orang-orang terpelajar, dan segera saja seperti biasanya, timbullah perdebatan. Pokok persoalannya adalah Mi'raj Nabi Muhammad. Dikatakan, dalam peristiwa tersebut, Nabi dibawa dari tempat tidurnya ke langit tinggi. Selama itu ia melihat surga dan neraka, berbincang dengan Tuhan sembilan puluh ribu kali, mengalami pelbagai pengalaman dain --dan dikembalikan ke kamarnya sementara tempat tidurnya masih hangat. Periuk air yang jatuh dan tertumpah isinya karena pengangkatan ke langit itu belum kosong ketika Nabi pulang.

Beberapa orang yang hadir berpendapat bahwa hal itu mungkin saja terjadi mengingat ukuran waktu di bumi dan di langit tentu saja berbeda. Namun, Sultan menganggapnya tidak masuk akal.
Para bijak mengatakan bahwa segala sesuatu adalah mungkin dengan kekuasaan Tuhan. Penjelasan ini pun tak memuaskan Baginda.

Kabar perdebatan ini akhirnya sampai kepada Sufi Syeh Shahabuddin, yang segera saja datang ke istana. Sultan menunjukkan rasa hormat terhadap guru itu, yang berkata, "Saya bermaksud membuktikan sesuatu tanpa menunda lagi: Ketahuilah bahwa kedua tafsiran itu keliru, dan ada hal-hal yang bisa ditunjukkan, yang kiranya menjelaskan peristiwa itu tanpa perlu berspekulasi secara gegabah atau menggunakan penalaran sembarangan dan tak bermutu."

Di ruang pertemuan itu terdapat empat jendela. Syeh itu minta agar yang satu dibuka. Sultan melihat keluar melalui jendela itu. Di gunung yang berada di kejauhan tampak olehnya bala tentara beribu-ribu bergerak menyerbu istana. Sultan sangat ketakutan dibuatnya.

"Lupakan saja, itu tidak sungguhan," kata Syeh itu.

Ia menutup jendela dan membukanya kembali. Kali ini laskar penyerbu itu sudah lenyap.
Ketika dibukanya jendela yang lain, kota di luar istana tampak terbakar api. Sultan berteriak panik.

"Jangan cemas Sultan, tak terjadi apa-apa," kata Syeh. Ketika ia menutup dan kembali membuka jendela itu, tak ada Iagi api yang tampak.

Dari jendeIa ketiga terlihat bajir bandang menuju istana. Dan, banjir itu pun seakan hanya mimpi.

Lalu, jendela keempat dibuka, dan, alih-alih gurun pasir, yang terlihat justru sebuah taman surga. Ketika jendela ditutup dan dibuka lagi, pemandangan itu sudah menguap.

Kemudian, Syeh itu minta dibawakan seember air. Dimintanya pula agar Sultan memasukkan kepalanya ke dalam air sesaat raja.
Setelah melakukan permintaan itu, secara gaib Sultan menemukan dirinya berada di sebuah pantai terpencil, di tempat yang sama sekali asing baginya. Sultan murka betul akan muslihat Syeh itu.

Tak lama kemudian, ia bertemu dengan beberapa penebang kayu yang menanyakan siapa dirinya. Karena sulit menjelaskan dirinya yang sebenamya, ia mengatakan bahwa kapalnya kecelakaan dan membuatnya terdampar di pantai itu.

Mereka memberinya pakaian, dan ia pun berjalan masuk ke sebuah kota. Di sana ada seorang pandai besi yang melihatnya berkelana tanpa tujuan, menanyakan siapa dirinya. "Saya seorang saudagar yang terdampar," jawab Sultan, "saya pun tak punya apa-apa lagi selain beberapa potong pakaian dari penebang kayu yang baik hati."

Orang itu kemudian menjelaskan tentang kebiasaan kota tersebut. Semua pendatang baru boleh meminang gadis pertama yang dilihatnya keluar dari rumah-mandi, dan pinangannya itu wajib diterima. Sultan itu pun pergi ke tempat mandi umum dan dilihatnya seorang wanita cantik keluar dari tempat itu. Ia bertanya apakah wanita itu sudah bersuami, dan ternyata sudah, maka ia bertanya kepada wanita berikutnya, yang buruk rupa. Dan yang berikut. Lalu, wanita keempat yang sungguh jelita dan rupawan. Gadis itu belum menikah, namun ia menolak Sultan sebab tubuh dan pakaiannya yang tak karuan.

Tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri di hadapan Sultan dan berkata, "Aku disuruh untuk menjemput seorang yang kusut di sini. Mohon ikut aku."

Sultan pun mengikuti utusan itu, dan ia dibawa ke sebuah rumah yang sangat indah; ia pun duduk di salah satu ruang megah di rumah itu berjam-jam lamanya. Akhirnya, empat gadis molek berpakaian mulia masuk, menyertai gadis kelima, yang lebih memikat hati. Sultan mengenali gadis itu sebagal gadis terakhir yang ditemuinya di rumah-mandi itu.

Gadis itu mengucapkan selamat datang dan menjelaskan bahwa ia telah bergegas pulang untuk menyambut Sultan, dan bahwa penolakannya tadi bukan sungguhan, karena semua wanita di jalan akan mengatakan hal serupa bila dipinang.

Kemudian, menyusullah jamuan makan yang lezat. Kepada Sultan, dikenakan jubah yang sangat mewah, dan musik yang merdu pun dimainkan.

Sultan tinggal selama tujuh tahun bersama istrinya itu sampai harta warisan istrinya itu habis. Lalu, wanita itu menuntut agar Sultan kini mencari nafkah untuk istrinya dan ketujuh anak mereka.
Teringat akan teman pertamanya di kota itu, Sultan pun menemui pandai besi itu untuk meminta nasihat. Temannya itu menyuruhnya bekerja sebagai kuli di pasar sebab Sultan tak punya barang untuk ditukar uang atau kemampuan apa pun untuk bekerja.

Dalam sehari, dengan mengangkat beban yang sangat berat, Sultan memperoleh upah hanya sepersepuluh dari kebutuhan hidup keluarganya.

Hari berikutnya, Sultan berjalan ke pantai, disinggahinya tempat di mana tujuh tahun silam dirinya pertama kali muncul di tempat itu. Ia memutuskan untuk bersembahyang, dan terlebih dahulu membasuh diri dengan air wudhu. Pada saat itulah mendadak ia sudah kembali berada di istananya, dengan ember air, Syeh itu, dan para pejabat.

"Tujuh tahun dalam pengasingan, kau orang jahat!" raung Sultan. "Tujuh tahun, berkeluarga, dan harus jadi kuli! Tidakkah kau gentar pada Tuhan, Yang Mahakuasa, atas perbuatanmu ini?"

"Tetapi kejadian itu hanya sesaat," kata guru Sufi itu, "yakni selama Sultan memasukkan kepala ke dalam ember berisi air."
Para pejabat istana mengiyakan perkara ini.

Sultan tidak bisa mempercayai sepatah kata pun. Segera diperintahkannya untuk memenggal kepala itu. Mengetahui sebelumnya bahwa perintah Sultan itu akan turun, Syeh pun merapal ilmu gaib (Ilm el-Ghaibat: Ilmu Menghilangkan Tubuh) yang dikuasainya. Ajian sakti itu membuatnya sekejap hilang dan muncul di Damaskus, yang berhari-hari jaraknya dari istana itu.
Dari Damaskus, Syeh menulis sepucuk surat untuk Sultan, yang berbunyi:

"Tujuh tahun lewat bagi Tuan, seperti yang Tuan telah alami sendiri, sekalipun hanya sebentar saja Tuan merendam kepala dalam air. Hal tersebut terjadi dengan menggunakan muslihat tertentu, yang tiada lain dimaksudkan untuk menjelaskan apa yang bisa terjadi. Bukankah dalam kisah itu tempat tidur Nabi masih hangat dan periuk air belum lagi kosong?

Yang penting bukanlah sesuatu itu telah terjadi atau tidak. Segalanya mungkin terjadi. Sesungguhnya yang penting adalah makna peristiwa itu. Pada kasus Sultan, tak ada makna sama sekali. Pada kasus Nabi, ada makna dalam peristiwa."

Wallahu’allam..” semoga kisah diatas ada manfaat atau sesuatu yang bias diambil hikmahnya, Wassallam,,”

Read More »
18:17 | 0 comments